Profil

Selasa, 09 Juli 2013

Tentang Dirimu


“Cinta adalah.. merasakan seluruh emosi jungkir balik dan berbaur menjadi satu. Merasa segalanya akan baik-baik saja selama berpegangan tangan dengannya. Seperti sedang bermimpi.. dengan kedua mata terbuka lebar-lebar.” ― Winna Efendi


Aku tau semuanya baru terasa sekarang. Langkah-langkah yang dulu diambil. Dengan begitu banyak pertimbangan, dengan begitu banyak hal-hal yang dipikirkan akibatnya, kesudahannya, dan selanjutnya, dan sebagainya.


Tapi, sekarang baru benar terasa. Baru terasa dan aku bersyukur untuk itu.

Ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa yang kupunya. Aku memilih untuk menyampaikannya secara jelas supaya cepat terasa olehmu, lelaki yang selama ini kucintai dalam diam, dulu. Dulu sekali.

Telah lebih dari sekian kesempatan yang ada untuk menuliskan segala hal tentang dirimu. Aku tidak pernah akan bosan membicarakan tentang dirimu, meski dalam bentuk monolog sekali pun. Atau meski hanya kusampaikan pada cuaca yang begitu lindap akhir-akhir ini.

Cuaca selalu mengingatkanku pada dirimu. Sebenarnya segala hal akan jadi ke-kamu-kamu-an. Setiap yang ada akan menjadi setiap dirimu, namamu. Setiap kesibukan adalah kamu dan setiap waktu senggang akan lebih banyak kamu. Begitulah.

Aku tidak pernah menemukan alasan bagaimana semua ini berlangsung. Ya. Aku mencintai tanpa alasan, karena itu aku juga tidak memiliki alasan untuk meninggalkan.

Menyenangkan jika dapat mendengarkan suaramu, sederhana saja. Tapi begitu menyenangkan. Menikmati setiap detail yang kamu lakukan di depan mataku. Tertawa, menangis, bernafas, menggaruk, menelan ludah, bahkan apa pun.

Aku bersyukur dapat menikmati semuanya. Membaca gerak bibirmu, menyentuh ujung-ujung jarimu, menghitung seberapa banyak tahi lalat di wajahmu, menertawakan rambutmu, menghirup aroma tubuhmu, segalanya. Segalanya tentang kamu, tentang namamu, tentang dirimu.

Dan benar, sekarang benar-benar sangat terasa. Benar-benar seperti sedang bermimpi.... dengan kedua mata terbuka lebar-lebar.



Meditria, 2013. Aitai ^^

Minggu, 16 Juni 2013

Syaoran



Hei, Syaoran! Berapa banyak rinduku yang terbilang untukmu? Tidak, tidak ada batasnya :)



*Gambarnya dari sini :)

Selamat Hari Ayah :)

Lelaki itu, sekarang, berdiri lebih tegak dari biasanya. Ia menahan segalanya sampai waktu menggeliat mematahkan setiap kesabaran yang berakar pada nadi-nadinya. Mereka, nadi-nadi itu, masih berdenyut mempertahankan cinta mengalir ke seluruh siklus hidupnya, ke semua hal tentang dirinya. Untuk kemudian ia bisikkan pada bilik-bilik yang lain. Pada nafas yang lain.


Meditria, 2013. Selamat hari Ayah :)

Perempuan

Terlihat seperti, perempuan itu menemukan kenyataan bahwa dirinya, diam-diam, menemukan kembali sebuah alasan untuk jatuh. Jatuh, tanpa mendapatkan cinta. Merasa terasing oleh atmosfer di sekitarnya. Perempuan itu sendiri, mengupas ingatan dan meracuninya dengan kenyataan.


Tangisnya pecah.


Meditria, 2013. Ibu?

Kamis, 13 Juni 2013

Musim

Sekian musim yang aku saksikan dalam setiap jemarimu yang kerap gemetar. Jemari yang menyentuhkan hangatnya pada pundakku yang berguncang pelan. Sekian musim yang turun di lembah terdalam, tempat pecundang mematahkan ranting-ranting yang tersambung pada hati dan air mata. Dan daunan gugur, dan sekuat tenaga hatiku mencegah setiap air mata luruh dari perkara yang tak terhindari.

Kepada cinta, aku sebutkan setiap lara yang mengganggu pikirku. Kepada cinta aku keluhkan setiap nafas yang merebut nafasku. Dan musim mulai memudarkan warnamu. Satu ranting yang patah akan menggugurkan ribuan daun.

Ketika cinta terasa bukan milikku, terasa samar hendak pergi. Saat itulah musim membanjiri lekuk wajahmu, menenggelamkan setiap keindahan yang terpeta. Dan aku merasa sesak, bahkan tak sanggup untuk mengeja setiap namamu. Akar-akar waktu mencari batasnya pada ruang-ruang dalam hatiku.

Aku belajar untuk tidak menangis, sebenarnya. Tapi kepadamu kuperlihatkan setiap perih, kepadamu kuperlihatkan setiap pedih. Kepadamu, kepada cinta, kukatakan sekian perasaan saat ranting menggugurkan daunan. Kemudian sungai di antara jemarimu akan membawaku pada sebuah kenyataan bahwa musim belum benar berakhir.

Musim mendingin. Aku hanya ingin setiap matamu mempercayai cahaya yang aku buat untuk mengusir cemas dari masing-masing ketakutan kita. Kamu tak banyak bicara. Aku meraih segala yang dapat kugenggam dan kutanamkan dalam lubang hati. Supaya tumbuh dalam musim yang bermekaran.

Kamu yang selalu ada bersamaku, dengan setiap jemari yang gemetar manahan sesak nafasku. Bertahanlah bersama musim yang menghangat di tanganmu.

Dan jangan pergi.


Meditria, 2013.

Selasa, 11 Juni 2013

Angin

Tentang kubikel-kubikel yang sebelumnya terlupa di mana. Kamu hembuskan angin yang samar menyentuh permukaan telinga, bergemerisik menembus lubang-lubang dalam. Tempat ingatan pernah tersita dalam panjang perjalanan. Kubikel itu masih ada dalam saluran-saluran pernafasan yang kini mengantarkan angin menuju muaranya. Kamu hembuskan lagi dan aku tertawa.

Kemudian pada dasarnya segala sesuatu akan membentuk suatu hubungan yang menggelikan. Aku cuma bisa terus tertawa supaya udara tidak berubah menjadi dingin. Supaya angin yang kamu hembuskan tidak membeku tanpa pernah menyentuh lorong-lorong panjang.

Kamu bercerita tentang nafas-nafas lain yang dihembuskan alam. Alam yang pernah diam di lubang-lubang atau malam-malam yang ranggas. Alam yang menghembuskan bau manis kapas atau padang embun. Bau udara yang tak pernah merasa asing tersisih oleh waktu. Sebab kenangan akan menyelamatkan setiap kata yang hilang dari ingatan. Bau-bau hujan dalam masa-masa sebelum kubikel-kubikel itu terlupa dimana. Bau ranting-ranting yang menggersang dalam cuaca. Bau musim saat ingatan adalah kenyataan.

Dan setelahnya aku saksikan angin terus bekerja mengantarkan setiap pelepah ingatan yang mulai meleleh melewati bibirmu. Nafas yang lain, aroma lain yang menusuk hidungku tanpa memberi tahu bahwa ia sengaja datang dari masa lalu. Masa lalumu.

Aku hanya akan tertawa supaya angin tidak berubah menjadi dingin.


Meditria, 2013.

Jumat, 07 Juni 2013

Pertemuan

Pernahkah bertemu orang seperti ini: orang yang membuatmu berpikir mengapa aku bisa bertemu dengan orang yang seperti ini?

Bagaimana jika bertemu dengan orang yang tidak sama dengan ini. Bagaimana keadaan hidup dan hari-hari jika semuanya tidaklah sama seperti ini. Bagaimana hati dan pikiran dapat saling menjaga jika bukan begini. Bagaimana aku harus mengatakannya bahwa syukurku penuh atas pertemuan ini. Atas anugerah ini :)


Meditria, 2013. Ia yang dicintai dengan sengaja, yang dicintai tanpa pamrih.