Profil

Tampilkan postingan dengan label Tegami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegami. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Oktober 2013

Tegami: Daijoubu?

Nee Syaoran, daijoubu desuka? Anata no koto omoidashite wa hiton naite ta no--

chikuso !!

Sial. Aku pernah bilang kalau perasaan itu tidak pernah benar-benar ada wujudnya, tapi begitu sesak saat terasa ada yang tidak baik-baik saja...

Aku ingin mengatakan banyak hal, sebenarnya. Tapi tersangkut di tenggorokanku. Kalaupun aku teriakkan, hanya akan menguap begitu saja. Karna aku memang tidak sanggup untuk bilang. Aku akan menangis. Aku takut jika kamu terus melihatku menangis, kamu akan merasa begitu bersalah dan menyalahkan hubungan ini. Hontou ni kowaii.

Selama ini aku selalu bersabar dalam diamku. Tidak ingin membicarakan, tidak ingin menyinggung apa pun, tentang sesuatu yang kamu pasti ketahui. Karena aku terlalu takut untuk membicarakannya. Terlalu takut untuk mendengar setiap alasan, setiap akibat, dan setiap detail kejadian. Aku terlalu takut untuk mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.

Jadi, Syaoran. Aku memilih untuk menjadi perempuan baik-baik. Dalam artian begini, aku belajar untuk tidak menuntut, untuk tidak terlalu banyak meminta. Tidak ingin menyusahkan, tidak terlalu banyak meengeluh--meski tidak sepenuhnya berhasil. Haha. Aku ingin belajar menjadi perempuan yang benar-benar kamu inginkan karena--aku benci mengakui ini, aku tidak punya apa pun, sebenarnya, untuk menjadi perempuan yang kamu perjuangkan.

Perasaan-perasaan itu membuatku menjadi berlebihan. Terlalu takut. Terlalu takut, Syaoran. Hei... Bagaimana menjelaskan semua ini... Apakah cinta memang selalu diselingi oleh rasa sesak? Ah, rasanya aku ingin pergi dengan mesin waktu ke masa depan. Untuk sekedar mengetahui bagaimana akhirnya. Dan jika akhirnya tidaklah sesuai, aku akan mencoba merubahnya dan lebih berusaha dari sekarang. Aku ingin menjadi egois dalam hal ini.

Pesimis. Benarkah? Aku tidak menyangkal bahwa aku terkadang merasa pesimis. Aku hanya tidak ingin menjadi lemah di hadapan kamu. Aku benci saat-saat di mana rasa menyerah menguasaiku. Tapi aku lebih kecewa saat kamu juga merasa bahwa aku memang menyerah. Terlihat seperti kamu tidak sepenuhnya percaya pada rasa yang aku punya buatmu. Karena aku memang tidak akan menyerah dan menyerahkan, ingat?

Aaak, sebenarnya: I just wanna tell the world that you're mine! Karena terkadang rasanya begitu sesak mengetahui bahwa aku bukan satu-satunya yang mencintai kamu. Tapi bisa aku pastikan aku punya rasa yang jauh lebih besar. Jadi aku akan bersabar dalam diamku. Mereka hanya tidak mengetahui tentang perasaan yang kita punya, tentang udara yang kita hembuskan bersama, tentang rindu-rindu yang kita titipkan dalam setiap doa, tentang segala sesuatu yang kita lakukan, sensasi yang tak terjelaskan. Mereka pasti akan cemburu saat mengetahuinya, bukan? :')

Aku ingin kamu meyakini, Syaoran. Aku akan merasa sangat senang jika kamu juga tidak menyerah, atau sekedar berniat untuk berjuang. Jika cinta ini berhasil, aku bilang, kita akan berhasil, kemudian semua orang akan mengatakan bahwa kisah ini memang luar biasa :)

Aku ingin dunia tau bahwa aku mencintai kamu melebihi cintaku pada diri sendiri...


Sakura, 2013. Pilih angka dari 1 sampai 10, aku akan menebaknya :)

Senin, 07 Oktober 2013

Tegami: Kowaii :')

aku mencintainya sebanyak aku memikirkannya. aku menyayanginya sebesar aku mengkhawatirkannya. kemudian, perasaan takut macam apa ini? ia yang kucari berada di sini dan tak kemana-mana. kemudian, kenapa masih saja menangis?

Konbanwa, Syaoran. Isogashiiiii? :)


Ini suratku yang ketiga buatmu. Mungkin sulit untuk dimengerti seperti surat pertamaku. Aku jugaa... tidak begitu mengerti perasaan macam apa ini. Seperti sesuatu yang menggerogoti, berjejalan di dalam sini. Di sini.

Perasaan ini datang setiap kali aku sendiri. Aku rindu, iya. Aku cinta, iya. Kemudian perasaan macam apa yang terasa ini? Ini bagian dari rindu, dari cinta? Mungkin saja. Tentu saja? Ini perasaan takut kehilangan. Aku benar-benar takut kehilangan.

Aku rindu, iya. Aku cinta, iya. Aku takut kehilangan, benar.

―aaaa, rindu rindu rindu.


Sakura, 2013. Wakaru desho? :'

Senin, 02 September 2013

Tegami: Nandemonai

Hai, Syaoran. Hisashiburi :)

Rasanya ganjil membicarakan ini. Tapi aku benar-benar sedang merasakan sesuatu. Dan itu aneh. Sesuatu menyelinap di hatiku dan meremasnya tanpa ampun. Menciptakan keluhan-keluhan di mulutku, dan kebodohan-kebodohan di pikiranku,

aku cemburu.


Sakura, 2013. Doushiyo?

Rabu, 21 Agustus 2013

Tegami: Taman

Nee, Syaoran. Sakura desu. Genki desuka?

Aku ingin mengatakan satu hal. Ahahah bodoh, banyak hal maksudku. Tidak, tidak, satu hal yang pada akhirnya akan mengungkapkan banyak hal. Tidak apa kan? Toh sudah lama sekali tidak bercerita panjang lebar.

Nee, Syaoran.
Dulu sekali aku punya sebuah taman dalam lipatan kepalaku. Duluuuuuu sekali. Rasanya sudah lama aku tidak pergi ke sana. Mhihihi, aku hanya akan berbagi taman itu dengan seseorang yang aku percayai. Mungkin aku sudah gila? Mungkin saja ;p

Dalam taman itu, Syaoran. Ada tempat-tempat dan sudut-sudut yang khusus dibuat oleh arsitek sebagai tempat untuk menyendiri. Atau berbagi dalam kesendirian. Pernah mendengar sesuatu seperti ini?: “Kau sedang ingin sendiri? Aku juga sedang ingin menyendiri. Jadi, mengapa tidak kita lakukan bersama?” Ahahaha aku tau kamu tidak akan mengerti. Dan kamu pasti tau arsitek dari taman itu tentu saja aku. Ahahaha *senyum*

Syaoran, di taman itu ada beberapa buah bangku omong kosong yang berderet sepanjang jalan paving blok. Ada lampu-lampu tua yang berjajar di sisi lainnya, mereka akan menyala selepas pukul 17.30 tepat. Bangku-bangku itu, Syaoran, telah banyak tergores oleh kuku-kuku tangan yang putus asa. Ada banyak juga guratan-guratan sepi yang tertinggal di sana. Tidak semua lampu menyala, ada beberapa yang padam karena rusak. Ada pula yang pecah, bekas terpukul sesuatu. Dan Syaoran, hanya aku yang tinggal di taman ini. Jadi kamu pasti mengerti maksudku :)

Ada sebuah bangku yang paling sering aku datangi. Letaknya paling dekat dengan jembatan. Dari situ aku bisa menatap lurus bunga-bunga teratai yang tumbuh. Air kolamnya setengah keruh dan tidak bergerak. Aku tidak pernah mengetahui bagaimana dasarnya. Mungkin ada ikan-ikan kecil yang hidup di sana. Mungkin juga ada arus deras yang tak kelihatan. Aku tidak pernah tahu, aku hanya penikmat permukaannya yang begitu teduh. Sesekali aku melemparkan batu-batu kecil ke tengah-tengah permukaan. Merusak daunan teratai hingga aku puas melakukan itu. Kamu tahu aku bisa melakukan apa saja di sini.

Di setiap sisi dari taman ini banyak ditumbuhi oleh pohon maple. Aku sangat suka saat musim gugur tiba, taman ini akan berwarna keemasan. Aku sangat menyukai daun maple. Aku menyukai musim gugur. Saat daunan maple gugur menumpuk di tiap sudut paving blok dan menutupi bangku-bangku taman yang sepi, meski dipenuhi dengan omong kosong. Hahahaha.

Nee, Syaoran.
Kamu tahu aku tidak pernah begitu menyukai bunga sakura sampai aku mengenalmu. Aku berjanji akan menanam banyak pohon sakura di taman ini. Mungkin aku akan tanam di seberang jembatan, di sana jarang sekali aku singgahi karena terlalu banyak kabut. Mungkin pohon-pohon sakura itu nantinya akan mengusir sedikit demi sedikit kabut yang dingin.

Ahahaha. Aku terlalu banyak berandai-andai. Tapi... aku bebas melakukan apa pun di taman ini. Aku menyukai taman ini. Karena hanya aku yang tinggal di sini, aku hanya akan membaginya dengan orang yang tepat. Di taman ini aku bisa menangis sepuasnya, menjerit tanpa mengganggu siapa pun. Atau bernyanyi apa pun, melakukan apa pun. Bahkan jika kedua orang tuaku bertengkar aku akan pergi ke sini. Jika seseorang membuatku muak aku akan pergi ke sini. Jika hidupku mulai bermasalah aku akan pergi ke sini. Benar Syaoran, taman ini lebih sering aku datangi saat aku merasa tidak memiliki siapa pun.

Saat musim penghujan, aku lebih suka menghabiskan waktu dengan duduk di papan ayunan yang basah. Suara deritnya terdengar nyaring karena rantai-rantai yang setengah berkarat. Aku akan memandangi kubangan-kubangan yang menggenang akibat hujan yang turun seharian. Sampai lampu-lampu taman menyala, kemudian membiaskan cahaya yang menembus ranting-ranting. Saat itu akan sangat luar biasa. Bukankah kamu amat mengetahui kalau aku begitu menyukai lampu-lampu kemerahan. Kamu pasti sangat tahu :)

Papan ayunan itu ada dua. Letaknya berdampingan. Aku lebih suka duduk di sebelah kiri karena papannya berwarna ungu. Aku menyukai warna ungu meski selalu mengingatkanku pada perempuanmu yang dahulu. “Dia cantik dan terluka. Terlalu sempurna untuk disembunyikan hujan, disembunyikan gerimis.” Aku tidak pernah membencinya. Tidak ada yang salah karena waktulah yang mempertemukan kamu lebih dulu dengannya. Aku mengenalmu setelahnya, saat taman ini hampir jadi. Hanya saja dulu tidak seperti ini.

Hei, Syaoran. Aku tahu kamu tidak begitu mengerti apa yang kukatakan. Ahahaha, tidak apalah. Aku hanya sedang ingin mengatakan semuanya. Aku ingin kamu mengetahui bahwa di taman ini juga ada pelangi, jarang sekali datang. Aku harus pergi ke sebuah gazebo kecil di pinggiran tebing untuk melihat pelangi. Letak gazebo itu di seberang jembatan kusam yang telah kuceritakan, setelah berjalan sedikit di antara semak. Pelangi akan datang jika kabut menghilang. Aku sesekali ke sana jika merasa bosan. Ada sisa-sisa gaung masa lalu, jadi aku tidak terlalu menyukai tempat itu. Anginnya juga terlampau kencang.

Di taman ini belum ada air mancur, nanti aku akan membuatnya bersama patung-patung kura-kura yang lucu. Kemudian burung-burung kecil akan sering hinggap di sana dan bernyanyi. Oyha, Syaoran. Tidak jauh dari papan ayunan, tepatnya di seberang sungai ada meja pualam yang tidak begitu besar. Bentuknya bundar dan ada dua buah kursi pualam yang berhadapan. Di sana banyak rumput-rumput yang tumbuh, dan sesekali akan terdengar suara jangkrik. Diam di sana membuatku tidak merasa sendirian :)

Nee, Syaoran. Aku mungkin adalah perempuan yang tidak pernah konsisten dengan perasaannya. Maksudku bukan perasaan terhadap dirimu. Melainkan perasaan yang lain. Aku bukan perempuan sempurna seperti kebanyakan perempuanmu terdahulu. Aku bisa mencintai dengan terlalu dan membenci juga dengan terlalu. Aku sangat mencintai taman ini dan aku bisa sangat membencinya jika terlalu banyak masa lalu yang tertinggal di sini.

Sekian musim aku meninggalkan taman ini. Sekarang aku mencoba berani untuk mendatanginya. Aku sudah membersihkan sisa-sisa kemarin yang amat menyakitkan. Taman ini adalah taman yang baru. Kabutnya juga sudah menghilang. Sekarang sedang musim penghujan jadi aku akan singgah dan diam di papan ayunan yang berderit pelan. Aku tidak tahu apa aku akan membenci lagi taman ini. Aku tidak tahu apa cinta akan bertahan lama di taman ini.

Hei, Syaoran. Tuhan telah memberiku rasa sayang yang telah kubagi denganmu. Dan aku ingin terus membaginya sampai taman ini hilang dengan sendirinya, sampai dunia berhenti atas kehendak-Nya, juga sampai dunia setelahnya, aku akan senang membagi rasa sayang ini padamu. Mungkin tidak akan pernah ada yang tahu nasib taman ini kelak. Sekarang aku hanya ingin membaginya denganmu. Kamu boleh datang ke sini kapan saja, kamu boleh melakukan apa saja. Nanti kita tanam pohon stroberi banyak-banyak di sudut dekat gazebo. Supaya belukarnya berkurang, atau lebih baik kita tiadakan saja semak-semak yang mengganggu itu. Jadi pelangi akan lebih sering singgah kemari. Kamu tahu? Aku ingin cinta yang kini tumbuh bisa terus bertahan karena taman ini juga akan selalu ada. Setiap musim masih datang bergantian, teratainya akan selalu mekar, musim hujan akan menjadi musim terbaik dan musim gugur akan tetap menjadi yang paling indah. Kemudian akan ada musim semi saat bunga sakura bermekaran. Mereka akan selalu ada jika kamu juga meyakininya.


Umh... Syaoran, sekarang kamu mengerti maksudku?


***

Sakura, 2013.