Sebuah ruang, ssttt.
Sengaja dibuat untuk menyimpan hal-hal tersembunyi Dibangun untuk memendam. Karena tak perlulah kamu, selamanya tahu aku sedang merasa apa.
Di ruang ini aku simpan macam-macam: rindu yang tak tersampaikan, keinginan-keinginan yang tak berkesudahan, dan rahasia. Tentu saja karena ini adalah sebuah ruang yang tak boleh diketahui. Ruang redam, ruang untuk menghindari, atau bolehlah kamu sebut sebagai ruang untuk pelarian.
Suatu hari nanti kamu akan bosan mendengarku mengeluh, marah-marah, menangis. Suatu hari nanti akan ada dua sisi yang berseberangan. Jadi, aku siapkan ruang ini untuk meredam. Untuk kemudian kusimpan setiap kekesalan, emosi, lirih, dan cinta yang rumit. Di sini. Di ruang redam aku jejalkan apa-apa yang tidak kau inginkan dariku, meski kau tak pernah mengucapkannya. Aku sadar diri, aku begitu menyebalkan.
Terlalu menyebalkan.
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 September 2014
Kamis, 28 Agustus 2014
Sekedar Pengingat Diri
Langit yang menguning, kemerahan, kemudian berubah keunguan.
Sesuatu yang sangat indah terkadang hadir sebentar saja. Eksklusif, begitu kita menyebutnya. Tuhan memberi kita waktu di antara sore dan malam. Kita menyebutnya senja, saat-saat paling menakjubkan yang terjadi di langit, dengan parade warna yang luar biasa. Brilian, aku menyebutnya demikian.
Mungkin banyak pula yang berharap senja tak pernah habis, tak perlu tergantikan malam. Sekarang begini, bukankah jika senja berakhir sedemikian rupa, Tuhan menjanjikan langit lain yang sama indahnya? Malam-malam saat bintang menetas satu persatu, bulan yang bersih, udara yang menghangat, dan langit yang teduh.
Pun, jika langit tampak terlindungi oleh kumpulan awan mendung, kemudian meneteskan hujan yang selalu jatuh tanpa pamrih, membasahi setiap dataran, Tuhan menjanjikan keteduhan lain lewat hujan yang kerap memuat banyak doa. Semakin deras hujan, terkadang membuat hati kita semakin teduh. Semua rasa bertemu di satu titik yang tenteram.
Saat malam berakhir, dan waktu subuh datang. Tuhan menambahkan nikmat kesejukkan lewat udara dan uap air, lewat embun, lewat kumandang adzan Subuh. Dan banyak dari kita, bahkan juga diriku, terkadang lalai atas nikmat yang satu ini.
Begitu pula saat pagi, siang, sore, dan kemudian kembali lagi pada senja yang brilian. Tuhan selalu menjanjikan yang terbaik, terindah, dan teristimewa untuk kita. Tanpa kita sadari. Sekarang tergantung bagaimana kita mencerna setiap nikmat yang diberikan. Susah dan senang, semua punya sisi baik.
Tuhan selalu menjanjikan kemudahan dibalik setiap kesusahan.
*
Sepi
sepi adalah ketika aku naik angkutan umum, sendirian. tanpa harus terperangkap dalam percakapan yang kerap kali aku hindari. menikmati perjalanan sendiri, tanpa perlu mengeluh pada siapa pun karena kemacetan yang parah. aku sendirian untuk menikmati. terkadang orang perlu membayar sangat mahal untuk sebuah kesendirian.
sepi adalah ketika aku harus mengerjakan hal-hal yang sesungguhnya hanya aku yang ingin lakukan. menggunting sisa-sisa kertas, menggambar apa saja untuk kemudian kutempel di dinding atau langit-langit kamar, menulis berlembar-lembar kalimat, mengunyah coklat, mengurung diri di kamar selama berjam-jam. sepi adalah kreativitas.
sepi adalah saat aku harus dengan sengaja pergi ke perpustakaan. mencari tempat di sudut dan melakukan apa saja yang mungkin di situ. menulis sambil mendengarkan lagu melalui headset, blogwalking, meng-update setiap status di setiap medsos, stalking, minum banyak air hingga berulangkali ke kamar kecil, dan menghabiskan tissue.
sepi adalah ketika aku mengecek notification dan tak menemukan apa-apa, menunggu pengumuman lomba menulis, mengunduh gambar-gambar untuk wallpaper desktop, dan menunggu seseorang. sepi adalah saat aku membiarkan hatiku menunggu, kemudian tersenyum sendiri saat seseorang itu datang melalui pesan singkat.
sepi adalah saat aku sengaja mencari-cari kegalauan untuk menyempurnakan rindu. menghirup aroma hujan banyak-banyak, kemudian menikmati bias cahaya lampu setelah reda, dan memerhatikan lalu-lalang orang-orang dari tempatku duduk berdiam sampai senja habis sendiri.
sepi adalah saat aku diam-diam berdoa dan menyebutkan sebuah nama berulang kali, menangis tanpa meninggalkan jejak, kemudian menenggak segelas air putih dengan barbar.
sepi adalah sesuatu yang sengaja kubuat untuk menyempurnakan apa yang sedang ingin aku lakukan. menangis, menunggu, merindu, semacam itu. sepi adalah sekarang.
*
Jumat, 25 Juli 2014
manis
manis,
aku pernah takut rindu yang kupunya akan mencemari hidupmu, jadi sebagian rinduku kukerjakan dalam diam.
merindukanmu adalah pekerjaan menyenangkan.
aku tahu ada banyak rindu untukmu yang bukan hanya dariku. aku tahu mungkin ada yang juga diam-diam merindukanmu. aku bisa apa? pekerjaan menyenangkan seperti itu siapa yang tidak mau?
manis,
aku ingin kamu tidak lagi merasa bersalah. pun kamu tak mesti lagi merasa perlu meminta maaf. kamu sudah selesai dengan gundahmu.
lihat! ia baik-baik saja. kini ia baik-baik saja. sudah tidak apa-apa.
karena aku juga akan menjaganya. aku akan menjaganya, manis. kamu tak perlu.
hatiku,
itu saja yang perlu kamu jaga.
***
aku pernah takut rindu yang kupunya akan mencemari hidupmu, jadi sebagian rinduku kukerjakan dalam diam.
merindukanmu adalah pekerjaan menyenangkan.
aku tahu ada banyak rindu untukmu yang bukan hanya dariku. aku tahu mungkin ada yang juga diam-diam merindukanmu. aku bisa apa? pekerjaan menyenangkan seperti itu siapa yang tidak mau?
manis,
aku ingin kamu tidak lagi merasa bersalah. pun kamu tak mesti lagi merasa perlu meminta maaf. kamu sudah selesai dengan gundahmu.
lihat! ia baik-baik saja. kini ia baik-baik saja. sudah tidak apa-apa.
karena aku juga akan menjaganya. aku akan menjaganya, manis. kamu tak perlu.
hatiku,
itu saja yang perlu kamu jaga.
***
Senin, 02 Juni 2014
Sekian waktu yang lewat dan beratus hujan yang turun
1
Aku ingin pergi sejenak
Mengucapkan selamat tinggal pada kamarku
Kemudian menjemput hujan sebentar
Hujan adalah tempatku bersembunyi
Aku dan matahari
sama-sama bersembunyi
Karena
matahari, kau tahu
Tidak pernah
benar-benar berjanji untuk menjadi
sedikit
abadi
Tidak juga
embun, ia kering selepas pagi
Sebagaimana
tidak juga cinta, ia kering selepas sakit
2
Di kota ini
hujan selalu datang
Membawa
kisah-kisah zaman dulu karna aromanya
sanggup
menghidupkan kembali setiap kenangan
Seorang ibu
ingat anaknya, seorang anak ingat pacarnya
Seorang
pacarnya menghilang, mungkin juga bersembunyi
Hujan itu,
membuat
lebih banyak lagi tempat untuk bersembunyi
3
Pernahkah
mendengar kisah tentang hujan?
Ia memuat
banyak doa yang sebagian belum selesai
Tentang
cinta yang belum selesai
Tentang
kisah yang terpaksa selesai
Kisah kita tidak selesai
Cinta kita juga tidak selesai
saat hujan, saat musim apa pun
4
Suatu hari nanti akan kita saksikan segalanya baru
Aku yang baru, kita yang baru
Kita yang baik-baik saja
Aku dan keluargamu yang baik-baik saja
Meski terkadang segalanya menuju separuh
Skeptis
Pahit dan manis bersatu dalam air hujan
Kenangan dan kenyataan bersatu dalam air... ya.
5
Namun tetap saja akan ada aku yang baru
Aku yang lebih baik dari serampangan sekarang
Sekarang aku bisa menangis dan kamarku
akan menyimpan lebih banyak lagi hujan
Lubang-lubang lagi dan bersembunyi lebih lama lagi
6
Aku bisa mengenakan baju musim dingin
milikmu, yang sudah tak berbau
Sungguh aku bisa saja melakukan apa pun di kamar ini
untuk membuat segalanya lebih baik
Setiap orang punya kesedihan yang tak ingin dibagi
Semakin sakit semakin berlubang
Semakin bersembunyi
Dan hujan semakin tak berkesudahan
7
Dengan hujan dan ritual yang sama
Aku bisa saja mengeja bayanganmu dalam lubang-lubang lain
Mengingat setiap detail wajahmu, membaca pesanmu berulang-ulang
Merindukanmu akan selalu tenteram jika hujan turun
Hingga terkadang aku bersyukur karena matahari
tidak pernah benar-benar berjanji
Ia juga mungkin punya kesedihan yang tak ingin dibagi
Dan terus bersembunyi
Terus...
8
Hingga segalanya baru
Baru... apa terasa sebegitu...
Bagaimana aku harus mengatakannya?
Saat ternyata benar tiba masanya
Dan kabut pergi, bersembunyi
Apa yang akan kau katakan saat ternyata tidak ada kita
di sana
9
Kamu tahu, aku ingin menjadi apa pun asal bisa bersamamu
Aku mau jadi seperti apa pun meski susah
Meski aku terus saja menyimpan hujan dalam kamarku
Aku menjemput hujan... untuk kemudian kusimpan
Karna mungkin suatu hari nanti hanya akan ada matahari
Aku tidak perlu khawatir karena aku punya hujan
di sini
Dan selalu ada kita di sini
10
Tidak ada yang pasti dengan nanti
Tidak ada yang tahu bahkan hujan pun belum tentu akan selalu turun
11
Terkadang kita merasa haru karena hal kecil
Sepele saja, rindu juga lekat dengan haru
Saat bersembunyi segalanya berdekatan bukan?
Berkaitan: sepi sunyi rindu sendu dan segala sesuatu
yang kubuat sendiri
Cinta itu apa?
12
Aku ingat apa kata Soe Hok Gie
"Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui."
Benar, sayang-ah rasanya ajaib memanggilmu sayang-
Benar, nanti kita akan tahu bagaimana jadinya
Meski aku takut untuk memikirkan apa pun jadinya
Dan lagi-lagi bersikap skeptis
Tidak, sayang.
Aku tidak akan pergi ke-mana-pun
Jika aku menghilang, aku hanya bersembunyi pada lubang
yang sedikit lebih dalam
13
Sekian perjalanan dan beratus hujan yang turun
Aku hanya mengeja namamu
Aku hanya merindu dirimu
Sekian waktu yang lewat dan beratus hujan yang turun
Aku mendoakan kita
Aku berusaha memantaskan diri
Aku menangis diam-diam
Aku mengeluh
Aku sesak dan bersembunyi
Sekian ritual yang sama dan beratus hujan yang turun
Aku bermimpi dan berharap
Semoga hujan tidak pernah selesai
Dan kita tidak berakhir
Pada musim apa pun
Di lubang mana pun
14
Lewat hujan yang datang beraturan
Aku ingin pastikan hatimu baik-baik saja ada di sini
Hati yang selalu mengingat bagaimana kita bermula
Dan ternyata selama ini aku bersembunyi dalam lubang-lubang hatimu
yang hangat, sehangat tanganmu saat menyentuh pipiku yang ranum
Saat malam-malam sehabis hujan
15
Lewat doa dan hujan yang turun
Aku pastikan dan semoga kamu demikian
Bahwa aku tidak akan menyerah untuk kita
Aku tidak akan menyerah untuk kita
Aku tidak akan menyerah untuk kita
Aku tidak akan menyerah
Aku tidak akan menyerah
Aku tidak menyerah
Aku tidak.
16
Aku benar menyayangi.
Sabtu, 17 Mei 2014
bukan palindrom
5.52
bukan palindrom namanya, seandainya ada jam 25.
berarti bertambah dua jam lagi dalam sehari semalam. bertambah dua jam lagi saat merindu. bertambah dua jam lagi hujan yang singgah. bertambah dua jam lagi musim-musim mendingin. segalanya bertambah dua jam, malam semakin larut. pagi semakin kuyup.
5.52
pukul segini hujan berhenti, menyisakan rimis tipis. menyisakan aroma basah.
seandainya ada jam 25, segalanya bertambah dua jam. dua jam untuk sepi atau menangis sendiri. yang lain menikmati dua jam yang datang tanpa merasa sesak nafas.
dua jam saja.
namun begitu berbeda. sedih akan berlarut hingga dua jam. matahari lebih lama enggan bernyanyi di langit sendiri. senang sekarang, bertambah juga? bukankah waktu selalu terasa sedikit saat bersenang-senang?
mungkinkah 25 itu? dua jam itu?
jika mungkin aku akan lebih lama lagi menunggu. jika tidak aku tetap saja merindu. penyakit sesak nafas saat hujan turun dan terasing dari orang lain. pojok dramaga selalu menyimpan aku dan taman kanak-kanak yang kubuat sendiri dalam kepalaku.
hanya di sana ada 25. di sini tidak. di sini bukan palindrom.
2014, nunggu jemputan, syukurlah tidak bertambah dua jam :)
bukan palindrom namanya, seandainya ada jam 25.
berarti bertambah dua jam lagi dalam sehari semalam. bertambah dua jam lagi saat merindu. bertambah dua jam lagi hujan yang singgah. bertambah dua jam lagi musim-musim mendingin. segalanya bertambah dua jam, malam semakin larut. pagi semakin kuyup.
5.52
pukul segini hujan berhenti, menyisakan rimis tipis. menyisakan aroma basah.
seandainya ada jam 25, segalanya bertambah dua jam. dua jam untuk sepi atau menangis sendiri. yang lain menikmati dua jam yang datang tanpa merasa sesak nafas.
dua jam saja.
namun begitu berbeda. sedih akan berlarut hingga dua jam. matahari lebih lama enggan bernyanyi di langit sendiri. senang sekarang, bertambah juga? bukankah waktu selalu terasa sedikit saat bersenang-senang?
mungkinkah 25 itu? dua jam itu?
jika mungkin aku akan lebih lama lagi menunggu. jika tidak aku tetap saja merindu. penyakit sesak nafas saat hujan turun dan terasing dari orang lain. pojok dramaga selalu menyimpan aku dan taman kanak-kanak yang kubuat sendiri dalam kepalaku.
hanya di sana ada 25. di sini tidak. di sini bukan palindrom.
2014, nunggu jemputan, syukurlah tidak bertambah dua jam :)
Senin, 05 Mei 2014
mana yang lebih menyiksa
mana yang lebih menyiksa, metode statistika atau cinta?
katamu.
mungkin dua-duanya sama menyiksa. dan bohong rasanya jika aku tidak melihat atau pura-pura tidak tahu. aku merasa aneh, seperti diteriaki maling dari jarak sedekat kuping. kita diuji dengan hal yang serupa, dengan kapasitas yang berbeda. kamu tegar, aku mencoba untuk itu. kamu ikhlas, aku belum mampu untuk itu. aku ini harus merasakan dulu yang namanya remidial.
mana yang lebih menyiksa, metode statistika atau cinta?
katamu.
mungkin keduanya sama-sama sanggup memelintir perut. kamu bisa merasakan sakit lewat aku. aku mengenal apa itu luka lewat kamu. mengapa kita begitu serupa, atau hanya aku yang terlalu mengada-ngada? tapi bukankah masing-masing dari kita juga mengenal metode statistika?
mana yang lebih menyiksa, metode statistika atau cinta?
katamu.
keduanya mungkin serupa. kamu tahu, untuk menemukan aku juga harus lebih dulu melepaskan. perpisahan itu selalu memikul satu pertemuan lain, kan? bahkan boleh jadi lebih dari satu. aku bertemu denganmu dan dengan dia. laki-laki yang memelihara hati, namun juga memelihara luka. hatiku, lukamu. dari situ kita masuk dalam fase remidial. dari situ kita belajar memperbaiki, bukan? kita bertiga.
apa yang kamu buat selama ini begitu luar biasa. metode statistika mengajarkan tentang peluang, tentang sebuah kesempatan. aku bilang sebenarnya kamu selalu punya kesempatan untuk membenci, tapi tidak kamu lakukan. aku juga punya kesempatan untuk menjauh, tapi tidak aku lakukan. mungkin karena kamu begitu baik jadi aku tidak takut untuk mendekat. dan mungkin karena cinta memberikan peluang untuk peduli lebih besar dari seharusnya. dan kamu selalu luar biasa, lebih lebih dari metode statistika.
kemudian sekali lagi,
mana yang lebih menyiksa katamu. mungkin tidak keduanya kataku.
2014, kupinjam statusmu ya :)
katamu.
keduanya mungkin serupa. kamu tahu, untuk menemukan aku juga harus lebih dulu melepaskan. perpisahan itu selalu memikul satu pertemuan lain, kan? bahkan boleh jadi lebih dari satu. aku bertemu denganmu dan dengan dia. laki-laki yang memelihara hati, namun juga memelihara luka. hatiku, lukamu. dari situ kita masuk dalam fase remidial. dari situ kita belajar memperbaiki, bukan? kita bertiga.
apa yang kamu buat selama ini begitu luar biasa. metode statistika mengajarkan tentang peluang, tentang sebuah kesempatan. aku bilang sebenarnya kamu selalu punya kesempatan untuk membenci, tapi tidak kamu lakukan. aku juga punya kesempatan untuk menjauh, tapi tidak aku lakukan. mungkin karena kamu begitu baik jadi aku tidak takut untuk mendekat. dan mungkin karena cinta memberikan peluang untuk peduli lebih besar dari seharusnya. dan kamu selalu luar biasa, lebih lebih dari metode statistika.
kemudian sekali lagi,
mana yang lebih menyiksa katamu. mungkin tidak keduanya kataku.
2014, kupinjam statusmu ya :)
Sabtu, 05 April 2014
Sampai
Mungkin cinta adalah sesuatu yang gaib sehingga tak mampu dilihat oleh indera. Mungkin juga menganut hukum kekekalan energi sehingga tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan.
Cinta hanya berpindah, teralihkan, terabaikan, berpindah lagi, teralihkan lagi... kemudian sampai.
S.a.m.p.a.i.
Sebentar
Sebentar.
Sejak pertama kamu membaca itu—membacakannya untukku, aku
ingin ke sana. Ingin pergi ke sana bersama-sama. Sebenarnya aku takut untuk berharap, tapi
kupikir mungkin tidak ada salahnya.
Jadi aku mulai berkhayal tentang hari Sabtu yang kuhabiskan
denganmu. Atau hari Jumat pun tak apa meski terasa ganjil. Aku hanya ingin
pergi dan bersama kamu mungkin akan menjadi sesuatu yang bagus.
Aku mulai sibuk menyisihkan uang, melihat kalender
berulang-ulang. Mencari tahu apa pun tentang pertunjukkan itu, bahkan berbincang
dengan teman-temanku bahwa aku akan pergi ke sana. Aku mulai sibuk memikirkan
akan memakai baju yang mana, bagaimana dengan sepatunya? Apa uangku sudah
cukup? Dan sebagainya.
Tapi sebentar, tunggu sebentar. Aku membuat sebuah kesalahan
fatal.
Aku lupa bahwa aku mencintai seseorang yang berbeda. Aku
tidak menyadari bahwa kamu memiliki lingkaran yang sulit untuk kupahami. Semantap
apa pun saat aku berkata “aku akan mengerti”, rasa sakit datang tanpa peduli
dan empati.
Kemudian aku tidak ingin kamu tahu bahwa aku kecewa karena
keputusan ini. Namun, aku juga ingin kamu mengetahui bahwa rasa sakit datang
malam tadi. Jadi aku menangis. Menangis karena aku begitu ceroboh sehingga
mencelakai hatiku sendiri.
Sebentar, jangan salahkan dirimu. Mungkin kamu juga berharap
bahwa aku akan mengerti, jadi saat kamu tahu aku tidak bisa mengerti… mungkin kamu juga kecewa dan sakit.
Mungkin kita hanya butuh waktu untuk sendiri, meski aku tetap saja memikirkanmu. Dan aku tidak bisa tidak menghubungimu, mengecek status WhatsApp-mu, dan kecewa jika kamu menghilang. Aku merasa diabaikan, meski sebenarnya kamu tidak bermaksud seperti itu.
Sekarang saatnya aku menekan perasaanku, bukan sebaliknya. Tapi aku takut jika jarak yang ada akan terasa lebih jauh. Aku telah terbiasa dengan segala yang kita jalani selama ini. Dan aku takut untuk membatasi rasa yang kupunya, aku takut. Sebenarnya aku tidak perlu terlalu merindukanmu karena toh kamu juga tidak terlalu peka terhadap rasa. Aku minta maaf jika kamu tersinggung.
Aku gagal memahami setiap detail kepalamu, yang seperti labirin. Aku tersesat di tikungan mana pun dan tak ada jalan pulang. Seharusnya aku bisa menemukan jalan dari setiap persoalan ini.
Sebentar.
Rasanya aku melupakan sesuatu. Ya, sebentar. Aku...
...Mulai berpikir bahwa segala sesuatunya diciptakan oleh persepsi otakku sendiri. Kita baik-baik saja. Namun hatiku berkali-kali menolak itu dan otakku berusaha mencari alasan logis untuk membenarkan apa-apa yang dirasakan. Aku pecundang.
Kenapa? Kenapa selalu seperti ini. Rasanya ingin pergi jauh dan mengucapkan selamat tinggal pada kamarku. Pada Hikari dan kedua lainnya yang masih saja bertengger di atas kabinet plastik. Aku mau pergi ke masa-masa setelah ini, jauh setelah perasaan ini.
Hari di mana aku bisa berteriak sekencang mungkin bahwa aku menyayangimu. Hari di mana aku tidak perlu bersusah-susah mencarimu karena kamu adalah bagian dari diriku. Hari di mana aku bisa menekan balik perasaanku dan lega karena aku terbebas dari sesak nafas.
Kemudian aku bisa menembus lingkaranmu, memahami labirinmu, dan menemukan lebih banyak lagi hari Sabtu.
Tapi... Sebentar... Sebentar.
Sayang, apa selama ini aku sudah cukup berjuang?
Selasa, 11 Maret 2014
Momiji 2
seperti yang sudah-sudah
aku merayakan kesendirian di sini, di taman ini
aku belum mau pulang ke kenyataan
darahku berdesir, mungkin akan keluar dari setiap pepori
yang mengelupas oleh cuaca
seperti kulit batang pohon jambu merah
mataku liar membaca jalanan
menatap lurus paving blok yang berlumut
berharap ada sedikit kehidupan di situ
sekarang sudut taman ini terasa mati
mati semua, burung-burung juga hampa
lantai pualam yang kusam, dinding kapur
gema suaramu memantul
aku semakin merindukan kenyataan
tapi aku terjebak di sini, tidak bisa ke mana pun
aku rasa kepalaku akan pecah
bola mataku juga, terlalu perih
mungkin pembuluh darahku sedang mendidih
ketakutan
aku bisa menenggak beberapa amitryptiline
kemudian tertidur sebentar dengan suhu badan yang tinggi
tapi saat terbangun, aku masih ada di taman ini
bawa aku kembali
di sini musim gugur mematikan setiap nafas
merenggut nasib dan harapan tinggal sekerat
aku takut
aku lupa jalan pulang
Momiji mengering, terbakar sendiri
aku lupa jalan pulang
Momiji mengering, terbakar sendiri
di manakah namamu?
di sela pokok cemara tidak ada bulan sabit
di dekat semak hanya ada ilalang
di manakah namamu?
mengapa hilang dari taman ini?
atau aku yang terlalu jauh pergi?
bawa aku kembali
di sini hanya ada seringai
semakin malam musim gugur mulai berubah
bintang hadir, lalu pecah di atas kepalaku
anak-anak tupai berlarian mencari lubang
hatiku juga berlubang
semuanya berlubang
Momiji tak lagi menutupi
mereka terbakar sendiri
dan aku lupa jalan pulang
bawa aku kembali
bawa aku ke pagi-pagi
2014.
Senin, 10 Maret 2014
Momiji
mo, kalau nanti ada yang tanya aku di mana,
bilang saja aku pergi ke taman.
kalau ada ya, soalnya mungkin saja tidak ada
aku ke taman sendirian dan disambut musim gugur
di sini sepi, sejumput rumput ditutupi Momiji
pada Momiji itu, mo, aku bisa tuliskan apa saja
kau mau aku tuliskan namamu?
aku dikutuk dalam keramaian, mo
jadi rasanya sangat nyaman berada dalam kesendirian ini
kau juga, singgahlah kemari kapan-kapan
biar kita berdua bisa bersama-sama menyendiri
musim gugur mungkin tak akan lama, mo
di sini sepi, dan sendu
dan semua tampak mengeluh karena matahari terlalu malu-malu
burung gereja berkicau sendiri-sendiri, di bawah pucuk cemara
musim hujan kemarin menyisakan banyak lubang, mo
namun ditutupi Momiji
kenapa Momiji itu terlalu suka jatuh, mo?
mereka gugur untuk siapa?
dan... siapa yang peduli?
mereka gugur untuk menutupi kubangan
benarkah?
mo, kapan singgah kemari?
mungkin musim gugur tak akan lama lagi berakhir
di sini kita bisa memutar Gloomy Sunday sepuasnya
atau menonton berlusin film horor
atau Conjuring, mo
di sini sepi
aku masih merasakan pahitnya rasa pil yang kuminum pagi ini
jadi rasanya sepi dan pahit
apa Momiji peduli perasaanku, mo?
kamu di mana?
musim gugur bisa saja berakhir, mo
sebentar lagi
2014, mo baca ini ya :)
bilang saja aku pergi ke taman.
kalau ada ya, soalnya mungkin saja tidak ada
aku ke taman sendirian dan disambut musim gugur
di sini sepi, sejumput rumput ditutupi Momiji
pada Momiji itu, mo, aku bisa tuliskan apa saja
kau mau aku tuliskan namamu?
aku dikutuk dalam keramaian, mo
jadi rasanya sangat nyaman berada dalam kesendirian ini
kau juga, singgahlah kemari kapan-kapan
biar kita berdua bisa bersama-sama menyendiri
musim gugur mungkin tak akan lama, mo
di sini sepi, dan sendu
dan semua tampak mengeluh karena matahari terlalu malu-malu
burung gereja berkicau sendiri-sendiri, di bawah pucuk cemara
musim hujan kemarin menyisakan banyak lubang, mo
namun ditutupi Momiji
kenapa Momiji itu terlalu suka jatuh, mo?
mereka gugur untuk siapa?
dan... siapa yang peduli?
mereka gugur untuk menutupi kubangan
benarkah?
mo, kapan singgah kemari?
mungkin musim gugur tak akan lama lagi berakhir
di sini kita bisa memutar Gloomy Sunday sepuasnya
atau menonton berlusin film horor
atau Conjuring, mo
di sini sepi
aku masih merasakan pahitnya rasa pil yang kuminum pagi ini
jadi rasanya sepi dan pahit
apa Momiji peduli perasaanku, mo?
kamu di mana?
musim gugur bisa saja berakhir, mo
sebentar lagi
2014, mo baca ini ya :)
Minggu, 09 Maret 2014
Puisi dan Bunyi
tentu tidak usah memaksudkannya sebagai pembicaraan tentang hakikat puisi bagi kehidupan kalau sekarang kita bertanya, 'Untuk apakah puisi ditulis?'. puisi, yang dilisankan sebelum kita mengenal aksara, dan tentu 'hanya' berupa bunyi, kini telah berubah menjadi benda visual yang ruang geraknya telah berpindah-pindah mulai dari berbagai lembaran dan lempengan untuk menulis sampai ke koran bahkan ke layar komputer. masing-masing memerlukan proses yang berbeda-beda.
***
ketika kita membicarakan puisi, perangkat sastra yang kita singgung-singgung adalah, antara lain, rima, alterasi, asonansi, irama, dan repetisi--semua berkaitan dengan bunyi.
kalau kita membicarakan fiksi, umumnya bukan itu yang menjadi sorotan diskusi kita. dibanding dengan genre lain, puisi tampaknya memang masih bersandar ke bunyi: dari pantun sampai ke tembang yang rumit tatacara penulisannya,
puisi tetap tunduk pada hakikat kelisanannya, yakni bunyi.
Sapardi Djoko Damono
fragmen kemarin
kusimpan kembali lenguh rindumu, laki-laki yang datang dari tanah jauh.
lalu seperti yang direncanakan angin sore ini, aroma tubuhmu liar mencecar udara kamarku. mencari-cari rindumu yang kusimpan dalam kabinet plastik. di atasnya, ada mereka yang dahulu kamu simpan dalam lemari kayu.
hikari, kalaf, dan kisa. betapa aku tidak ingin membenci maupun menyayangi. aku penat, sepenat udara di luar yang membawa uap air. kemudian mengalirkan hujan dari langit yang rendah.
jika fragmen kemarin adalah bagian dari luka, kita hanya perlu benang jahit untuk menutupinya. dan jika hari ini cepat menjadi kemarin, aku ingin kamu datang secepat yang kamu bisa. dari tanah jauhmu. karena angin semakin liar membawa aroma lain.
aku tidak ingin lagi membenci. atau dengki. karena rindumu selalu penuh memenuhi kamarku. tidak ada ruang untuk benci. tidak ada ruang untuk kemarin.
kita hanya punya hari ini untuk terjaga, ingat? jadi merindulah sepuasmu, akan kusimpan sebanyak apapun.
lalu seperti yang telah direncanakan angin sore ini, aroma tubuhmu liar mencecar udara kamarku.
sedang jemari tanganku,
gemetar dan berjatuhan.
2014, untuk hamzah.
lalu seperti yang direncanakan angin sore ini, aroma tubuhmu liar mencecar udara kamarku. mencari-cari rindumu yang kusimpan dalam kabinet plastik. di atasnya, ada mereka yang dahulu kamu simpan dalam lemari kayu.
hikari, kalaf, dan kisa. betapa aku tidak ingin membenci maupun menyayangi. aku penat, sepenat udara di luar yang membawa uap air. kemudian mengalirkan hujan dari langit yang rendah.
jika fragmen kemarin adalah bagian dari luka, kita hanya perlu benang jahit untuk menutupinya. dan jika hari ini cepat menjadi kemarin, aku ingin kamu datang secepat yang kamu bisa. dari tanah jauhmu. karena angin semakin liar membawa aroma lain.
aku tidak ingin lagi membenci. atau dengki. karena rindumu selalu penuh memenuhi kamarku. tidak ada ruang untuk benci. tidak ada ruang untuk kemarin.
kita hanya punya hari ini untuk terjaga, ingat? jadi merindulah sepuasmu, akan kusimpan sebanyak apapun.
lalu seperti yang telah direncanakan angin sore ini, aroma tubuhmu liar mencecar udara kamarku.
sedang jemari tanganku,
gemetar dan berjatuhan.
2014, untuk hamzah.
Jika
mengapa sakit selalu dapat memenuhi ruang-ruang di antara kita? karena jarak, atau begitu pepatnya mimpi yang kita punya?
rindu boleh jadi selalu datang. tapi rasa takut hinggap sama seringnya. jika cinta adalah suatu pembenaran, mengapa membuat kita menangis terlalu keras?
pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu kubeli jawabannya. janji yang tak berkesudahan, tanpa ada yg terwujud. karena waktu belum memberikan kesempatan pada kita, untuk sedikitnya mengetahui apa yang kita punya. siapa kita?
kita diuji dalam keragu-raguan. mengetahui masa depan sama sendunya dengan pergi ke masa lalu. jadi sayang, kita hanya punya hari ini untuk terjaga.
jika cinta bukanlah sebuah pembenaran dari setiap keluh kesah. jika cinta hanya tentang mimpi yang terasa nyata, atau sebaliknya. jika cinta merupakan bagian dari janji yang tak terbeli...
kamu di mana? tetap di sini atau terjaga di mimpi yang lain?
2014, iseng.
Selasa, 25 Februari 2014
Senja untuk Kawan
1
Kau tahu kawan?
Bila mega sudah enggan bercengkerama dengan senja; camar-camar memekik di bawah lembayung lusuh, kemudian hilang tergulung gabak-gabak
hingga senja tak punya warna
Kau menangis dalam riak dingin yang menggerogoti jiwa,
raga,
sukma,
dan segalanya.
Sebenarnya aku ingin mengajakmu menjahit bianglala di bajumu, dengan benang perak dari bintang-bintang: namun sudah entah jadi bangkai atau lenyap atau terbungkus kenangan.
2
Hingga kau bertanya kapan senja akan merona, mengembalikan semua ingatan akan jingga yang dipenuhi ruang dan jarak, mengembalikan sisa gema masa lalu dan semua catatan yang kian berkarat
segala harapan tinggal sisa sekerat, betapa
”Seperti tak lagi kukenal senja itu, kini!” katamu. Aku diam. Menekuri segala yang tersirat dari balik mantel musim dingin yang kau kenakan
”Bahkan saat aku sedang menyelesaikan baris terakhir dari syair mimpi: memang rasanya percuma karena senja begitu membenci penyair.”
Ombak menghempas sunyi yang bernyanyi kian meninggi, menjemput ucapanmu dan mengungsikannya ke luas samudra
Bila mega sudah enggan bercengkerama dengan senja; camar-camar memekik di bawah lembayung lusuh, kemudian hilang tergulung gabak-gabak
hingga senja tak punya warna
Kau menangis dalam riak dingin yang menggerogoti jiwa,
raga,
sukma,
dan segalanya.
Sebenarnya aku ingin mengajakmu menjahit bianglala di bajumu, dengan benang perak dari bintang-bintang: namun sudah entah jadi bangkai atau lenyap atau terbungkus kenangan.
2
Hingga kau bertanya kapan senja akan merona, mengembalikan semua ingatan akan jingga yang dipenuhi ruang dan jarak, mengembalikan sisa gema masa lalu dan semua catatan yang kian berkarat
segala harapan tinggal sisa sekerat, betapa
”Seperti tak lagi kukenal senja itu, kini!” katamu. Aku diam. Menekuri segala yang tersirat dari balik mantel musim dingin yang kau kenakan
”Bahkan saat aku sedang menyelesaikan baris terakhir dari syair mimpi: memang rasanya percuma karena senja begitu membenci penyair.”
Ombak menghempas sunyi yang bernyanyi kian meninggi, menjemput ucapanmu dan mengungsikannya ke luas samudra
3
Hujan terus saja. Namun kau tak henti juga menuliskan baris-baris kemarau: pohon tumbang, kebakaran hutan, atau sungai yang mengering.
Aku memagut sepi yang membungkus raut senja yang kian kelabu, kau putus asa, aku tak bisa
Lantas kita paham: senja tak hilang, seumpama bintang yang pudar di angkasa
Dan bila senja belum juga merona
Kau tahu kawan?
Aku akan genggam kau lalu kita ciptakan warna untuk senja, biar kasih menyelubungi malam, dan gabak bertekuk lutut pada bintang-bintang nirwana
September 23, 2009 at 3:09pm
Hujan terus saja. Namun kau tak henti juga menuliskan baris-baris kemarau: pohon tumbang, kebakaran hutan, atau sungai yang mengering.
Aku memagut sepi yang membungkus raut senja yang kian kelabu, kau putus asa, aku tak bisa
Lantas kita paham: senja tak hilang, seumpama bintang yang pudar di angkasa
Dan bila senja belum juga merona
Kau tahu kawan?
Aku akan genggam kau lalu kita ciptakan warna untuk senja, biar kasih menyelubungi malam, dan gabak bertekuk lutut pada bintang-bintang nirwana
September 23, 2009 at 3:09pm
Kamis, 20 Februari 2014
Partikel
Karena rasanya tidak adil jika aku hanya membicarakan akar. Baiklah, sekarang aku mau bicara tentang Partikel.
Aku sempat berbincang sedikit dengan Sisy. Aku bilang aku nggak suka Partikel, ralat: aku lebih suka Akar ketimbang Partikel. Karena rasanya dalam Partikel aku mudah sekali menemukan Dee. Dia ada di mana-mana. Dia ada di setiap narasi. Inikah hasil bertapa selama delapan tahun? Jujur aku tidak terpuaskan, meski Partikel adalah yang paling tebal sekali pun. Aku tidak kenyang sama sekali.
Jadi, Partikel tidak dapat membuatku bertahan sampai akhir. Baiklah, aku memang membacanya hingga halaman terakhir, bahkan aku membaca tentang riwayat penulis. Tapi hampir lima puluh halaman terakhir aku hanya mencari-cari dialog dan mengacuhkan narasi.
Aku berhenti sampai Zarah tiba di mana? bertemu dengan... siapa? Hardiman? Ya ya ya pokoknya itu. Aku bahkan lupa tentang detailnya, padahal seharusnya bagian ini adalah kunci dari Partikel. Bagian akhir adalah jawaban dari semua teka-teki yang bertubi-tubi sejak awal, kan?
Dan bahkan aku tidak begitu membaca kisah Bodhi dan Elektra karena terlanjur bosaaaaaan. Aku memang belum tentu bisa menulis cerita dahsyat luar biasa seperti Partikel, tapi itulah yang terasa, meninggalkan kesan rumit. Mungkin ini lagi-lagi tentang mood. Tolong!
Sisy bilang Partikel seperti sebuah ensiklopedia. Aku setuju, tapi aku lebih suka ensiklopedia bergambar. Hahaha. Partikel memang memuat gambar-gambar dan sketsa luar biasa di luar akal manusia. Tapi ya... begitulah. Aku lebih suka Akar, meski hanya sedikit gambar ada di sana!
Terlepas dari itu semua, Partikel memang menarik. Dee selalu berhasil mengangkat rupa-rupa fenomena yang tak terpikirkan sebelumnya. Yah, namanya juga tentang spiritual ya. [Cengenges]. Beberapa hal yang aku suka dari Partikel adalah Zarah. Namanya bagus, aku suka. Hahahah. Cerita ini juga dibuka dengan sangat baik, semua tanda tanya dikeluarkan, semua tabu, semua hal SARA yang berhasil disamarkan dengan apik. Hebat ya, berani banget nulis menyinggung-nyinggung SARA begini. Gila.
Aku suka petualangan Zarah. Aku suka saat-saat Zarah menjadi seorang fotografer, petualangan di Tanjung Puting, dan seterusnya dan selanjutnya sampai ia berhasil tiba di London. Aku suka saat ia punya kesempatan memotret kawanan singa dari dalam telaga. Hahaha.
Dan yang paling membekas adalah CHOMO CHOMO! Sampai sekarang aku sering sekali ber-CHOMO CHOMO! Hahaha. Apa kabar Sarah ya?
Partikel kuhabiskan dalam waktu tiga hari. Satu hari penuh antusias, sisanya penasaran. Nah, itu. Partikel adalah buku luar biasa. Namun, aku tetap akan memilih Akar. Aku memang belum baca dua buku lainnya. Kita lihat nanti ya. Selamat menjadi: S.
Ohya, terima kasih lagi Sisy. Totemo arigatou :)
Selasa, 18 Februari 2014
Janji
Bicara itu mudah.
Terkadang kita terlanjur berjanji tanpa benar-benar disadari. Sedang orang yang mengharapkannya begitu mengingat janji kita. Disimpan baik-baik, tanpa berani menagih atau menuntut. Hanya diam dan berharap. Kemudian sedih sendiri saat tahu kita tidak benar-benar berjanji.
Janji adalah bagian dari suatu penghiburan diri.
Berjanji itu mudah, membuktikannya yang sulit. Bahkan untuk mengingatnya pun......
Senin, 10 Februari 2014
Degup
Dalam tiga rakaat shalat maghribku, aku selipkan namamu pada sujud terakhir.
Meremang, aku ingin menangis sejenak. Aku tahu Tuhan selalu menyimpan jawaban dari setiap doa, jadi aku berdoa banyak-banyak. Sangaaat banyak. Meski semuanya tentang satu hal.
Aku ingin menangis sebentar. Merasakan darahku berpusat di rongga dada dan mengalir hangat sampai ke titik luka. Aku merindukan degup jantungmu, kemudian rasanya ingin menangis sekencang yang aku bisa, di dadamu. Membagi setiap perih tanpa suara dan tanpa kata. Sungguh aku ingin bersamamu sampai batas dunia yang ditentukan Tuhan. Bahkan dalam dunia setelahnya.
Aku mau menangis sekencang yang aku bisa, di dadamu. Tanpa banyak pertanyaan dan protes. Cukup degup jantungnya yang bicara, aku merindukannya. Lihatlah, berapa banyak yang telah diambil dari diriku. Aku bahkan tidak dapat memiliki air mataku sendiri. Mereka terus saja mengalir.
Ini adalah titik nadir, titik terjauh dari jangkauan kebahagiaan. Hanya dengan melihat wajahmu aku sanggup merangkak keluar darinya. Atau mendengar degup jantungmu, aku... merindukannya.
Aku tahu suatu saat kamu akan membaca ini. Kemudian bertanya-tanya apa yang terjadi. Aku tidak bisa berkata apa pun. Aku hanya ingin menangis keras-keras, sekuat yang aku bisa. Tanpa banyak ditanya atau dimarahi. Aku mau menangis sampai aku lelah sendiri. Maka setelahnya aku akan baik-baik saja. Semoga.
Aku tahu kesedihan-kesedihanku tak baik buatmu. Tapi aku benar ingin menangis sepuasnya, di dadamu. Degup jantungmu membuatku hangat. Membuatku hidup dan hidup.
Aku ingin hujan, sekarang. Dinginnya akan menenteramkan. Baunya membuatku semakin merindukan rumah. Tapi aku seperti tak memiliki tempat untuk pulang. Aku takut berada di mana pun, aku hanya ingin melihatmu. Dan mendengar setiap suara dari dirimu. Bahkan suara dengkurmu atau suara perutmu.
Aku merindukan segala hal tentang dirimu.
Dalam tiga rakaat shalat maghribku, aku selipkan namamu pada sujud terakhir. Tidak ada yang salah dari banyak meminta. Maka aku berdoa, berdoa, berdoa. Sengau.
Meditria, 2014. Hati-hati di jalan.
Jumat, 07 Februari 2014
aksara
bacalah aku.
selamanya aku tidak selalu punya huruf a, terkadang terlalu banyak huruf u. tapi percayalah, yang kamu lihat adalah benar diriku. seringkali aku hanya bagian dari deretan huruf konsonan, sulit untuk dilisankan dan diterjemahkan. atau banjir dengan huruf h karena terlalu banyak mengeluh. tapi aku tidak pernah berusaha menjadi orang lain, meski mereka punya sekian angka. aku masih memiliki banyak tanda baca. aku adalah aku.
bacalah aku, sayang. kamu akan lihat ada beratus abjad tentang dirimu. juga tentang namamu yang selalu kueja dalam doa-doaku.
meditria, 2014. adem.
Rabu, 05 Februari 2014
Akar
Dalam perjalanan kemari―yang harus dilalui dengan masuk ke gudang sampah nomor satu di Balebak, yang baunya sudah hampir bisa ditolerir oleh indera penciumanku saking seringnya aku lewat ke situ, dan kemudian memesan satu paket perjalanan menuju perpustakaan via ojeg. Aku berjalan dengan banyak kalimat yang melintas, kalimat-kalimat itu meraih-raih pintu bangsal berdebu yang jarang kupakai di dalam otakku, karena jarang sekali kubuka. Mereka berjejalan memaksaku untuk segera mewujudkan mereka menjadi bentuk reinkarnasinya: sebuah cerita. Aku merangkai banyak sekali fragmen-fragmen kasar di kepalaku, semacam ide untuk membuat suatu tulisan cerdas―yang tidak pernah berhasil. Tapi ide adalah 50% dari keseluruhan proses menulis. Jadi luar biasa mahal, dan aku hanya sering menjadikannya setengah jadi. Dibiarkan begitu saja, terkadang banyak yang pergi dan kulupakan sampai akhirnya menyesal sendiri. Dan benar saja, semua kalimat dalam bangsal yang sudah terkunci sekalipun hilang begitu saja, diterkam ganas oleh angin yang menabrak-nabrak wajah sepanjang perjalanan kemari. Ojeg setan.
Malam tadi aku tidur ditemani Akar, yang sebelumnya berhasil menyita segenap inderaku untuk bertumpu pada 47 halaman awal yang kubaca dengan penuh kesadaran. Sampai akhirnya aku menyerah pada makhluk-makhluk yang berusaha membawaku ke alam mimpi, entah siapa mereka. Memaksaku untuk bertemu banyak orang yang tak kukenal tapi seakan-akan aku mengenalnya sejak lama. Mimpi hanya akan ada di tempat yang pernah kita lihat dengan semua tokoh yang pernah kita lihat sebelumnya. Tapi tidak jarang aku bertanya saat esok harinya, kapan aku pernah pergi ke sana? Atau dimana aku pernah melihat tempat seperti itu? Dan, YAH, aku lupa mimpiku semalam. Ojeg setan.
Bicara tentang Akar, buku ini sudah kuhabiskan 128 halaman. Tepat saat Bodhi kembali ke Srinthip dan mencari Kell. Sudah, aku sudahi dulu. Di sini kumandang adzan tidak terlalu terdengar sehingga tidak ada semacam alarm yang sanggup merenggutku dari kuasa buku ini. Gila, aku harus bisa mengontrol diriku untuk tidak membaca seharian penuh. Bahkan aku sempat mengabaikan pesan singkat seseorang yang selama ini selalu kutunggu pesan-pesannya, meski ia datang hanya berupa sebuah pesan 'halo'-dengan-huruf-o-yang-pendek sekalipun.
Akar sudah kudengar kehebatannya dari semenjak aku belum punya cukup uang dan kemauan untuk membeli novel, hanya meminjam sana-sini dalam antrian yang sangat panjang. Aku tahu ini novel hebat. Tapi tidak pernah berkeinginan untuk membacanya. Entahlah, aku hanya belum ingin. Buku sebagus apapun jika dibaca dengan mood yang soak, aku khawatir akan meninggalkan kesan yang rumit. Mood, sebuah kata yang gampang untuk diucapkan, semudah mengeja good namun nyatanya selalu berbeda. Good adalah sebuah tunggal yang berdiri anggun, dikenal dan mengenal banyak orang. [Paham? Tidak juga tidak apa-apa.] Tapi, mood adalah akar serabut, berbelit-belit dengan tujuan yang rumit. Berubah arah, dan terkadang, YAH, soak.
Aku adalah penulis setengah jadi, bahkan terkadang belum sampai setengah karena idenya masih serabutan. Aku seperti mempunyai ide namun nyatanya nihil. Bangsal itu masih berdebu, bahkan terkunci dan kuncinya berkarat. Kenapa? Kenapa aku tidak pernah berhasil? Yah, aku akui aku menemukan sedikitnya sesuatu dalam buku ini, si akar ini.
Jadi aku juga berterima kasih pada Sisy yang sudah memberikan, ralat: meminjamkan buku ini. Aku membacanya seperti ini adalah milikku, karena aku harus dengan susah payah meletakannya kembali saat alarm berbunyi. Dan itu terjadi sekarang, bahkan aku berani bertaruh buku ini akan selesai malam nanti. Seperti saat aku membaca Harry Potter and The Half-Blood Prince yang berhasil kutelan bulat-bulat hanya dalam sehari.
Jadi begini, pengarang buku ini, Dee―yang akun twitternya entah sejak kapan dan untuk alasan apa aku mem-follow-nya, berhasil menyadarkan sesuatu. AHA! Semacam itu. si-AHA ini berhasil mengorek-orek pintu bangsalku dan mendobraknya keras sampai kepalaku tersentak.
Dee adalah penulis tekun, risetnya gila-gilaan―mungkin. Aku tidak terlalu mengenalnya, hanya sebatas pada karya-karya ringan semacam Perahu Kertas dan Madre. Mungkin seorang Sisy akan lebih antusias dalam menggambarkan sosok Dee. Mereka dua perempuan yang datang secara sadar dan tak sengaja, atau sengaja tapi tanpa disadari? Entahlah. Jadi setiap kali pikiran tentang Sisy muncul, aku juga memikirkan Dee. [Oh yah, mungkin hanya penyair yang sanggup mengerti kata-kataku yang hiperbolis ini.]
Aku juga pernah melakukan riset. Tentang kota kecil di sebelah barat London: Bristol. Kenapa Bristol? Sebab kota ini dekat dengan kota kelahiran J. K. Rowling yang kupuja karyanya sampai sekarang. [Alasan aneh]. Ya, aku jadi antusias dengan kota ini. Berbulan-bulan hanya memikirkan karya luar biasa yang ada di otakku, tapi gagal kumuntahkan ke kertas mana pun. Sampai idenya aus sendiri, megap-megap seperti ikan mujair yang minta disiram air.
Jika sudah membaca karya bagus, aku jadi termotivasi. Dan bertahan sebentar saja, mood-ku cepat sekali soak. [Tertawa]. Jadi, lewat sedikitnya 128 halaman Akar ini, aku menyadari bahwa di sana tidak ada Dee. Di sana hanya ada Bodhi, yang baru saja lepas dari Lokal 13, tempat cari uang dan menjadikan dirinya sebagai Sisifus. Nah, jadi kemana Dee?
Yap, dia berhasil menjadi orang lain. Berhasil membuatku berpikir bahwa penulis Akar adalah Bodhi, tokoh yang hidup, kemudian kisahnya yang nyata diangkat menjadi sebuah novel, dan blablabla... blablabla... Nah, Dee berhasil melakukan risetnya pada si tokoh. Ia mengenal Bodhi, seperti teman biasa nongkrong atau teman seperjalanan dalam jarak yang jauh. Sudah akrab dan leluasa bertukar pikiran. Dee berhasil membuat kisahnya menjadi hidup.
Aku seringkali terperangkap dalam diriku sendiri. Berusaha menyelipkan ke-aku-aku-an dalam semua ide brilian yang seringnya berakhir menyedihkan. Semua yang kutulis hampir pernah kualami, selebihnya imajinasi yang hampir mustahil. Dan rumit. Jadi, sekarang aku hanya bisa menahan nafas sejenak, kemudian menghembuskannya sampai layar laptopku berembun. Aku harus bisa menjadi orang lain dengan caraku, seperti yang Aan Mansyur pernah bilang: Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus. Heeei, kita bisa pergi ke mana saja dan menjadi siapa saja dengan menulis.
Seringkali aku membaca karya-karya pendek orang lain. Dan seringkali pula banyak yang bagus. Aku suka tulisan-tulisan teman-temanku seperti Fiki, Isti, Luca Satria, dan Oryza Sativa. Entah dia siapa, aku mengenalnya lewat Jeni. [Jeni, ketika lidah menyentuh langit-langit saat menyebutkan namanya.]. Jeni adalah karyanya yang misterius, semisterius dirinya. Aku bahkan tidak tahu di mana dia sekarang. Yah, membaca karya-karya orang lain bisa menjadi bahan bakar dalam proses menulis. Aku juga pernah membaca status Sisy yang menyinggung soal Santiong. Aku ingat ada yang berpendapat bahwa Santiong yang dipilihnya menjadi penghancur semua diksi yang rapi disusunnya dengan penuh retorika itu. Tapi, aku berpendapat lain. Justru tiga bait―atau empat? dalam status facebook-nya jadi indah karena Sisy memilih dari sekian banyak tempat dan pilihannya jatuh pada, iya, Santiong. [Nyengir].
Nah, karena dua perempuan ini sudah hadir sebagaimana cerita yang kubaca saat ini―membuatku bergumam pelan: Edyan! Masa sih bisa??!! Aku sangat berterima kasih. Ya, banyak hal yang ingin kusampaikan sebenarnya, pada dua perempuan ini. Tapi sekarang cukuplah terwakilkan oleh dua kata saja: Terima Kasih.
Ohya, Supernova akan difilmkan. Dan aku malah membaca novelnya. [Ketawa].
Langganan:
Postingan (Atom)