Profil

Sabtu, 05 April 2014

Sampai

Mungkin cinta adalah sesuatu yang gaib sehingga tak mampu dilihat oleh indera. Mungkin juga menganut hukum kekekalan energi sehingga tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan.

Cinta hanya berpindah, teralihkan, terabaikan, berpindah lagi, teralihkan lagi... kemudian sampai.

S.a.m.p.a.i.

Sebentar

Sebentar.

Sejak pertama kamu membaca itu—membacakannya untukku, aku ingin ke sana. Ingin pergi ke sana bersama-sama.  Sebenarnya aku takut untuk berharap, tapi kupikir mungkin tidak ada salahnya.

Jadi aku mulai berkhayal tentang hari Sabtu yang kuhabiskan denganmu. Atau hari Jumat pun tak apa meski terasa ganjil. Aku hanya ingin pergi dan bersama kamu mungkin akan menjadi sesuatu yang bagus.

Aku mulai sibuk menyisihkan uang, melihat kalender berulang-ulang. Mencari tahu apa pun tentang pertunjukkan itu, bahkan berbincang dengan teman-temanku bahwa aku akan pergi ke sana. Aku mulai sibuk memikirkan akan memakai baju yang mana, bagaimana dengan sepatunya? Apa uangku sudah cukup? Dan sebagainya.

Tapi sebentar, tunggu sebentar. Aku membuat sebuah kesalahan fatal.

Aku lupa bahwa aku mencintai seseorang yang berbeda. Aku tidak menyadari bahwa kamu memiliki lingkaran yang sulit untuk kupahami. Semantap apa pun saat aku berkata “aku akan mengerti”, rasa sakit datang tanpa peduli dan empati.

Kemudian aku tidak ingin kamu tahu bahwa aku kecewa karena keputusan ini. Namun, aku juga ingin kamu mengetahui bahwa rasa sakit datang malam tadi. Jadi aku menangis. Menangis karena aku begitu ceroboh sehingga mencelakai hatiku sendiri.

Sebentar, jangan salahkan dirimu. Mungkin kamu juga berharap bahwa aku akan mengerti, jadi saat kamu tahu aku tidak bisa mengerti… mungkin kamu juga kecewa dan sakit.

Mungkin kita hanya butuh waktu untuk sendiri, meski aku tetap saja memikirkanmu. Dan aku tidak bisa tidak menghubungimu, mengecek status WhatsApp-mu, dan kecewa jika kamu menghilang. Aku merasa diabaikan, meski sebenarnya kamu tidak bermaksud seperti itu.

Sekarang saatnya aku menekan perasaanku, bukan sebaliknya. Tapi aku takut jika jarak yang ada akan terasa lebih jauh. Aku telah terbiasa dengan segala yang kita jalani selama ini. Dan aku takut untuk membatasi rasa yang kupunya, aku takut. Sebenarnya aku tidak perlu terlalu merindukanmu karena toh kamu juga tidak terlalu peka terhadap rasa. Aku minta maaf jika kamu tersinggung.

Aku gagal memahami setiap detail kepalamu, yang seperti labirin. Aku tersesat di tikungan mana pun dan tak ada jalan pulang. Seharusnya aku bisa menemukan jalan dari setiap persoalan ini.

Sebentar.

Rasanya aku melupakan sesuatu. Ya, sebentar. Aku...

...Mulai berpikir bahwa segala sesuatunya diciptakan oleh persepsi otakku sendiri. Kita baik-baik saja. Namun hatiku berkali-kali menolak itu dan otakku berusaha mencari alasan logis untuk membenarkan apa-apa yang dirasakan. Aku pecundang.

Kenapa? Kenapa selalu seperti ini. Rasanya ingin pergi jauh dan mengucapkan selamat tinggal pada kamarku. Pada Hikari dan kedua lainnya yang masih saja bertengger di atas kabinet plastik. Aku mau pergi ke masa-masa setelah ini, jauh setelah perasaan ini.

Hari di mana aku bisa berteriak sekencang mungkin bahwa aku menyayangimu. Hari di mana aku tidak perlu bersusah-susah mencarimu karena kamu adalah bagian dari diriku. Hari di mana aku bisa menekan balik perasaanku dan lega karena aku terbebas dari sesak nafas.

Kemudian aku bisa menembus lingkaranmu, memahami labirinmu, dan menemukan lebih banyak lagi hari Sabtu.

Tapi... Sebentar... Sebentar.

Sayang, apa selama ini aku sudah cukup berjuang?

Selasa, 01 April 2014

tidak.

tidak benar-benar terucap, tidak benar-benar terwujud, tidak benar-benar ada, tidak benar-benar datang, tidak benar-benar tumbuh, tidak benar-benar bernama.

tidak.

rasanya

rasanya,

berkumpul bersama banyak orang yang menerima kita tanpa banyak bertanya, tanpa banyak mengomentari apa pun yang melekat pada kita, yang menerima dengan tangan terbuka dan tertawa selepas-lepasnya, menertawakan hal remeh temeh dan berbagi tanpa banyak protes. tanpa tersinggung. tanpa jarak. tanpa syarat,

rasanya,

aku bahagia :)

Minggu, 23 Maret 2014

Monkey Majik - If


Suka :)

Samudera dan Teluk

Cinta tidak pernah salah. Penulis novel atau penyair manapun akan setuju dengan itu, bahwa cinta selalu benar. Cinta dapat menggabungkan dua sifat yang berbeda untuk menjadi campuran yang homogen, menjadikan dua hal yang berlainan untuk membentuk kombinasi yang luar biasa. Seperti menaburkan bubuk kacang pada eskrim coklat, atau menggabungkan warna hitam pekat dengan merah muda yang lembut.

Bagiku, kita adalah kombinasi paling unik yang pernah ada. Seperti penggabungan antara samudera yang teduh dengan teluk yang ramai. Yah, semacam sanguinis-melankolis. Aku bersyukur untuk itu, bukankah perbedaan adalah hal yang paling indah dari cinta?

“Cinta seperti apa yang kau harapkan? Rama dan Sinta? Lupakan!” Aku teringat perkataan temanku. Ia benar, aku bukanlah Rama. Aku Rahwana. Aku yang merampas Sinta dari tercintanya, aku adalah seorang pencuri. “Selamanya Sinta tidak akan bersama Rahwana, kawan.”

Aku benar-benar terjebak dalam rasa yang membuatku nyaris meledak. Aku mencintaimu, cinta tidak pernah salah, kan? Namun, mengapa segalanya membuatku seakan-akan menjadi seseorang yang paling kejam? Bukankah Rahwana dan Sinta bisa menjadi kombinasi yang luar biasa?

“Dia bersama orang lain. Lupakan saja.” Lalu aku harus bagaimana? Merindukanmu dalam diam? Kemudian mengirim perahu-perahu dari samuderaku untuk menuju teluk, untuk singgah membawa perasaan rindu yang tak tersampaikan ini?

Aku nyaris meledak.