Profil

Selasa, 18 Februari 2014

Janji

Bicara itu mudah.

Terkadang kita terlanjur berjanji tanpa benar-benar disadari. Sedang orang yang mengharapkannya begitu mengingat janji kita. Disimpan baik-baik, tanpa berani menagih atau menuntut. Hanya diam dan berharap. Kemudian sedih sendiri saat tahu kita tidak benar-benar berjanji.

Janji adalah bagian dari suatu penghiburan diri.
Berjanji itu mudah, membuktikannya yang sulit. Bahkan untuk mengingatnya pun......


Minggu, 16 Februari 2014

Senin, 10 Februari 2014

Degup

Dalam tiga rakaat shalat maghribku, aku selipkan namamu pada sujud terakhir.

Meremang, aku ingin menangis sejenak. Aku tahu Tuhan selalu menyimpan jawaban dari setiap doa, jadi aku berdoa banyak-banyak. Sangaaat banyak. Meski semuanya tentang satu hal.

Aku ingin menangis sebentar. Merasakan darahku berpusat di rongga dada dan mengalir hangat sampai ke titik luka. Aku merindukan degup jantungmu, kemudian rasanya ingin menangis sekencang yang aku bisa, di dadamu. Membagi setiap perih tanpa suara dan tanpa kata. Sungguh aku ingin bersamamu sampai batas dunia yang ditentukan Tuhan. Bahkan dalam dunia setelahnya.

Aku mau menangis sekencang yang aku bisa, di dadamu. Tanpa banyak pertanyaan dan protes. Cukup degup jantungnya yang bicara, aku merindukannya. Lihatlah, berapa banyak yang telah diambil dari diriku. Aku bahkan tidak dapat memiliki air mataku sendiri. Mereka terus saja mengalir. 

Ini adalah titik nadir, titik terjauh dari jangkauan kebahagiaan. Hanya dengan melihat wajahmu aku sanggup merangkak keluar darinya. Atau mendengar degup jantungmu, aku... merindukannya.

Aku tahu suatu saat kamu akan membaca ini. Kemudian bertanya-tanya apa yang terjadi. Aku tidak bisa berkata apa pun. Aku hanya ingin menangis keras-keras, sekuat yang aku bisa. Tanpa banyak ditanya atau dimarahi. Aku mau menangis sampai aku lelah sendiri. Maka setelahnya aku akan baik-baik saja. Semoga.

Aku tahu kesedihan-kesedihanku tak baik buatmu. Tapi aku benar ingin menangis sepuasnya, di dadamu. Degup jantungmu membuatku hangat. Membuatku hidup dan hidup.

Aku ingin hujan, sekarang. Dinginnya akan menenteramkan. Baunya membuatku semakin merindukan rumah. Tapi aku seperti tak memiliki tempat untuk pulang. Aku takut berada di mana pun, aku hanya ingin melihatmu. Dan mendengar setiap suara dari dirimu. Bahkan suara dengkurmu atau suara perutmu.

Aku merindukan segala hal tentang dirimu.

Dalam tiga rakaat shalat maghribku, aku selipkan namamu pada sujud terakhir. Tidak ada yang salah dari banyak meminta. Maka aku berdoa, berdoa, berdoa. Sengau.


Meditria, 2014. Hati-hati di jalan.

Kepencet

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa *anggap aja ini kepencet terus males ngehapus lagi* hhahahahaha

besok masih ada kuliaaah, aaaaku belum merdeka.
duduk di sini lebih ribut ya, deket orang banyak yang banyak ngomong. tapi kebagian duduknya cuma di sini huooh. masih bisa liat ke luar jendela sih, masih bisa duduk dengan dua kaki diangkat tanpa malu sih.

di luar setengah ceraaaah, tapi berharap ujan sih. biasanya kalo ujan jadi sepi. yuhuuuuu~ terus di sini sampe malem yuhuuuuu~ terus besok kuliah nyeh -____-


aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa *kepencet lagi*

Jumat, 07 Februari 2014

aksara

bacalah aku.

selamanya aku tidak selalu punya huruf a, terkadang terlalu banyak huruf u. tapi percayalah, yang kamu lihat adalah benar diriku. seringkali aku hanya bagian dari deretan huruf konsonan, sulit untuk dilisankan dan diterjemahkan. atau banjir dengan huruf h karena terlalu banyak mengeluh. tapi aku tidak pernah berusaha menjadi orang lain, meski mereka punya sekian angka. aku masih memiliki banyak tanda baca. aku adalah aku.

bacalah aku, sayang. kamu akan lihat ada beratus abjad tentang dirimu. juga tentang namamu yang selalu kueja dalam doa-doaku.


meditria, 2014. adem.